February 14, 2008

mengenang yang tak sempat tinggal

Posted in Stories at 6:16 am by monyet

“KLENG KLENG KLENG KLENG…..!!!!” Bel penanda waktu makan siang berbunyi sudah. Suaranya begitu tajam menusuk telinga jika Arab yang membunyikannya. Sudah dua tahun dia bertugas membunyikannya namun tidak juga ia bisa menciptakan suara yang halus, atau setidaknya enak didengar, seperti ketika benda itu dulu ada dalam pegangan Bito. Bagusnya, suara yang begitu menusuk telinga itu segera menyadarkan kami dari kenikmatan dahaga. Kenikmatan tiga kali sehari yang terasa begitu singkat karena hanya berlangsung lima belas menit.
Masih dalam iringan gemanya kami segera menghentikan suapan, menelan makanan yang masih ada di dalam mulut, lalu berdiri. Semua terjadi secara otomatis. Seotomatis lampu baca lipat yang begitu tombolnya kau tekan, lipatannya langsung terbuka dan dengan segera lampunya berdiri tegak lalu menyala terang. Beberapa detik kemudian, doa penutup makan siang pun dilantunkan, “Hail Mary, full of grace, the Lord is be with You…..”. Makan siang usai sudah.
Dengan tergesa-gesa langsung aku ambil gelas, sendok, dan garpuku. Keutuhan dan kebersihan mereka menjadi tanggung jawab kami masing-masing, karena itu barang pribadi kami. Setelah kubasuh di bawah derasnya air kran, mereka segera aku bawa dan masukkan ke dalam loker. Loker yang berada di barisan ketiga dari pintu, deretan ketujuh paling bawah. Loker milikku. Kuletakkan mereka di rak bawah sebab yang atas khusus untuk baju dan celana.
Tanpa memedulikan ributnya suara di kamar ganti, di tengah-tengah asap rokok yang muncul dengan hati-hati, aku melepas sepatu dan mengganti baju seragam yang tidak sempat kuganti sebelum makan siang, dengan kaos dan celana pendek. Kaos dan celana pendek yang selalu kupakai setelah makan siang entah sejak entah berapa hari yang lalu. Nah, kini aku siap untuk tidur siang.
Setelah mengunci rapat loker, aku meninggalkan kamar ganti. Tanpa alas kaki, aku berlari menaiki tangga menuju ruang tidur, yang kami kenal dengan istilah ‘dormit’. Dengan cepat aku berlari meninggalkan keriuhan di kamar ganti. Setelah mencapai anak tangga paling atas, aku hentikan lariku. Dengan langkah santai aku masuki aula menuju dormit.
Samar-samar, begitu aku memasuki aula, terdengar keriuhan. Keriuhan yang berbeda. Keriuhan anak-anak pulang sekolah. Langkahku pun terhenti. Kutengokkan kepala ke belakang, memastikan tidak ada pengawas. Kupusatkan perhatian pada pendengaran, memastikan tidak ada siapa-siapa berjalan mendekat. Dengan keyakinan tidak ada pengawas, kuberjalan cepat menuju salah satu jendela. Sepert jendela yang lain, jendela itu tinggi dan lebar. Namun keberadaannya di pinggir panggung membuatnya hampir selalu luput dari perhatian pengawas yang selalu murah hati memberikan tamparan di punggung para pengintip jendela.
Aku berdiri merapat di tembok sisi luar pinggir jendela. Berdiri menyaksikan kerumunan putih abu-abu yang bergerak meninggalkan gerbang sekolah mereka. Terlihat wajah-wajah lelah yang tetap berusaha untuk tersenyum lebar. Dapat kulihat dengan jelas wajah mereka. Tentu saja, mengingat gerbang sekolah mereka persis menempel dengan gedung kami.
Aku perhatikan mereka satu persatu. Dengan perlahan mereka berjalan sambil berbicara dengan teman di sampingnya. Entah apa yang mereka bicarakan, dari atas sini tidak dapat kudengar jelas suara mereka satu persatu. Yang kudengar hanyalah keriuhan. Tiba-tiba gelak tawa muncul menyelinap di sela-sela keriuhan itu. Gelak tawa yang membuat langkah kerumunan itu terhenti sejenak. Seakan menular, aku ikut tertawa pelan. Aah.. terkadang aku iri dengan mereka. Keseharian mereka tentu beda dengan kami yang ada di dalam gedung ini. Keseharian yang lepas dari rutinitas yang mau tak mau musti dijalani, yang selalu ditegaskan oleh bunyi bel yang menusuk telinga semenjak berada dalam pegangan Arab.
Entah berapa lama aku berdiri memerhatikan mereka satu-persatu. Dengan tidak sabar kujelajahi wajah mereka dengan kedua mataku. Aku menjelajah mencari wajah yang sudah beberapa hari belakangan selalu membuatku diam tersenyum. Di mana dia? Kerumunan putih abu-abu sudah hampir mereda. Jangan-jangan dia sudah lewat sebelum aku datang, terlambatkah aku? Atau jangan-jangan aku tidak melihatnya lewat? Arghh.. betapa bodohnya diriku!
Rasa kecewa datang begitu cepat. Mengapa bisa begitu bodoh diri ini! Arggghhh…!!! Sial. Kekecewaan yang datang begitu cepat membuatku berdiri lemas melihat kerumunan itu dengan tatapan sedih. Huff…! Dengan berat kuhempaskan napas dari kedua lubang hidungku yang terbilang lebar.
Masih terdengar keriuhan dari kerumunan itu. Keriuhan yang perlahan memudar seiring meredanya kerumunan itu. Kulangkahkan kakiku meninggalkan jendela. Masih sempat kudengar gelak tawa di antara mereka. Tawa yang begitu renyah di telingaku. Renyah? Hei, tunggu dulu! Jangan-jangan… Tawa itu terdengar lagi. Renyah sekali. Itu tawa pemilik wajah itu! Tidak salah lagi. Aku pernah merekamnya sekali ketika ia sedang asyik bercanda di kantin dengan teman-temannya.
Segera aku berlari mendekati jendela. Kucari asal suara tawa itu. Ah, itu dia. Itu dia wajah itu, tepat di depan gerbang sekolah. Senyum lebar terkembang di wajahku. Sempat kurasakan tubuhku bergetar. Wajah itu ada di bawah sana, berdiri diam di depan gerbang sekolahnya. Wajah dengan pipi merona merah muda, dilengkapi dengan kacamata berbingkai tipis warna hitam yang membuatnya terlihat makin anggun. Sesekali dia tersenyum, membuatku kembali bergetar.
Entah apa yang ia bicarakan dengan temannya sehingga mereka berhenti di depan gerbang. Cukup lama ia berdiri, seakan memberikan kesempatan bagiku untuk menikmati wajahnya sepuas-puasnya. Ingin aku berlari kembali ke kamar ganti, berganti pakaian lalu menyelinap keluar lewat pintu dapur. Menyelinap perlahan lalu menghampirinya, berkenalan dengan pemilik wajah. Kemudian keesokan harinya duduk bersama dengannya di meja kantin, berbagi cerita lalu terdiam saling menatap. Ah, tidak akan pernah puas aku menatap wajahmu.
“PLAK!!” Sebuah tamparan mendarat tiba-tiba di punggungku. Aawww….!! Panas seketika menyeruak seenaknya di punggung, mengiringi tamparan itu. Buyar sudah lamunanku.

Panas itu masih membekas di punggungku ketika tiba-tiba kurasakan ada tangan memegang pundakku. “Pulang yuk!”, kata pemilik tangan itu, “Sudah sore, lagipula langit makin gelap, daripada kita terkurung hujan di jalan. Pulang yuk!” Kupalingkan wajahku menatap gadis yang ada di sampingku. Sambil tersenyum aku menjawab, “Ayo. Kita pamitan dulu ke Pastor ya”.
Sambil kugandeng tangannya kami berjalan meninggalkan jendela tempatku berdiri. Sejenak masih kusempatkan melirik ke arah bawah jendela itu, tepat ke depan gerbang sekolah Budi Mulia. Wajah itu entah sudah di mana. Ah, andai saat itu—delapan tahun lalu—aku sempat berkenalan dengan pemilik wajah itu. Andai aku sempat.

  

tiga belas februari dua ribu delapan/hampir jam empat pagi
[hahahahahahahahaaa… ini tulisan kedua yang pernah gue buat tentang dirinya dan diriku yang tidak pernah saling kenal. hahahahahahaaa… ]

1 Comment »

  1. dianikarini said,

    gimana dengan mereka yang sudah kenal tapi nggak dapet kesempatan untuk kenal lebih jauh..hehehehe..

    mond, mond, bukannya lo udah kenalan ya???


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: