December 4, 2007

Cerita dari Kain

Posted in Stories at 5:59 am by monyet

Aku ingat ketika dia lahir. Langit begitu cerah, bunga-bunga bermekaran, dan burung-burung bernyanyi. Begitu pula tentunya kedua orang tuaku. Semua seakan berseri menyambut dirinya. Senyumnya begitu lebar, tawanya yang renyah mengundang semua untuk ikut tertawa bersamanya. Tidak heran jika semua menjadi begitu berseri berada di sekitarnya.
Dia anak laki-laki, sama seperti diriku. Ia tumbuh menjadi laki-laki yang gagah, sama seperti diriku. Kulitnya yang dahulu begitu putih kini mulai menggelap, coklat. Itulah yang juga terjadi dengan diriku. Mungkin tidak lama lagi kulitnya akan segelap kulitku, sebagai akibat kerja seharian di bawah terik matahari. Namun tidak seperti diriku, ia memilih untuk bekerja mengurusi ternak, mengambil alih tugas ayah yang kini mulai menua dan renta. Sedangkan aku bekerja keras mengurusi ladang gandum, yang kini makin meluas.
Dirinya tidak jauh berbeda denganku. Namun mengapa semua hati hanya jatuh padanya? Ayah begitu bangga padanya, bunda teramat kasih terhadapnya. Apa yang kurang dengan diriku? Telah berhasil kuluaskan ladang gandum hingga berlipat-lipat. Telah berhasil kusediakan simpanan bahan makanan hingga cukup untuk persediaan makanan hingga anak cucuku nanti. Sudah berhasil kbuat kokoh rumah untuk kedua orang tua dan saudara-saudaraku. Namun, aah.. mengapa tetap semua hati hanya jatuh padanya? Apa yang kurang pada diriku?
Suatu hari aku pergi membawa sebagian hasil panen sebagai bahan persembahan kepada Tuhan. Dirinya ikut serta bersama beberapa ekor anak domba hasil ternaknya sebagai bahan untuk ia persembahkan. Aku tiba di sana lebih dulu. Setelah kubersihkan meja persembahan, segera kususun hasil panenku di atasnya. Perlahan-lahan kusulut api untuk mulai membakarnya. Ia tiba sewaktu aku membersihkan meja persembahan. Begitu tiba, ia segera menyembelih para anak domba itu satu persatu. Ketika aku mulai membakar pesembahanku, dia sedang sibuk menyirami susunan persembahannya yang ada di atas mejanya dengan darah anak domba.
Persembahanku terbakar begitu cepat. Dengan segera kubersujud sebagai tanda penyerahan persembahan kepada Tuhan, sekaligus permohonan agar Tuhan mau menerima persembahanku. Ya tuhan, terimalah persembahanku. Lama kubersujud, tiada tampak tanda-tanda persembahanku diterima. Langit diam. Masih diriku bersujud, masih langit tak bergerak. Ya Tuhan… aku mohon, terimalah persembahanku.
Maih diriku bersujud ketika kudengar dia mulai membakar persembahannya. Kuangkat kepala untuk melihatnya. Segera setelah persembahannya terbakar, ia segera bersujud. Belum lama ia bersujud, langit pun terbuka. Aaahh… akhirnya persembahan kami diterima. Kami? Ternyata hanya persembahannya yang diterima. Milikku? Persembahanku tetap tergolek di atas meja. Tergolek dan secara perlahan habis termakan api. Aaarrgghhh… ternyata kasih Tuhan juga hanya jatuh padanya. Mengapa Tuhan?
Mengapa kasihMu hanya jatuh padanya? Ap ayang kurang dari persembahanku, Tuhan? Tidak terasa air menetes dari kedua mataku. Kupandangi dirinya yang masih bersujud. Terasa panas mengalir di dalam dada. Aah.. mengapa semua hati hanya jatuh padanya? Bahkan hati Tuhan pun begitu. Bukankah Dikau seharusnya Maha Adil, wahai Tuhan? Apa yang kurang pada diriku? Sangat terasa panas mengalir di dalam dadaku.
Seperti biasa, setelah merpaikan meja persembahan, kami berjalan pulang bersama. Tidak seperti biasa, kami diam sepanjang perjalanan. Langkahku terasa sangat berat. Mengapa Tuhan? Mengapa hatiMu hanya jatuh padanya? Aku berjalan dengan sangat pelan. Tidak berani kuangkat kepalaku ini. Masih terasa panas yang mengalir di dalam dadaku. Apa yang kurang dari diriku?
Perlahan kuangkat kepala. Aku pandangi dirinya yang berjalan dengan sangat riang. Aah.. mengapa semua hati hanya jatuh padamu? Apa yang lebih dari dirimu? Mengapa Tuhan pun berpihak padamu? Panas makin mengalir deras di sekujur tubuhku. Masih kupandangi dirinya ketika kuayunkan tongkat panjang pemotong gandum ke arahnya. Kuayunkan dengan begitu cepat. Seketika ia berhenti melangkah, lalu terjatuh. Lepas sudah kepala dari badannya. Darah segera mengalir cepat di tanah. Masih tetap kupandangi dirinya yang kini tergeletak di tanah.
Seketika langit menghitam. Petir menggelegar keras. Begitu keras hingga tanah bergetar. Aaargghhhh!!! Mengapa? Mengapa semua begitu kasih padanya? Dengan segera kulempar tongkat panjang yang masih ada di tanganku, lalu kuangkat kakiku menjauhi tempat itu. Aku berlari dengan kencang. Begitu kencang menghindari amarah Tuhan yang kurasakan datang mendekati diriku. Mengapa Tuhan? Mengapa Engkau juga begitu kasih padanya?
Aku berlari dengan sangat kencang. Berlari berusaha menghindari amarah Tuhan. Bukan ke arah rumah aku berlari sebab dengan akan mudah Tuhan menemui diriku di sana. Aku terus berlari. Aku tidak mau dipersalahkan atas kematiannya. Bukan salahku. Andai semua mau bersikap adil. Andai saja Engkau benar-benar Maha Adil, wahai Tuhan! Aku hanya minta diperlakukan dengan adil. Bukan salahku dia mati.

2 desember 2007
[cain and habel… the first sibling rivalry, the greatest of all]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: