October 16, 2007

masyarakat, moral, dan agama

Posted in inside my head at 11:47 pm by monyet

Apa hubungan dari masyarakat, moral, dan agama?

Jika berdasarkan opini publik yang berkembang entah sejak kapan, dikatakan bahwa agama membentuk seseorang menjadi pribadi yang memiliki moral. Lalu, dengan banyaknya orang yang bermoral di dalamnya, masyarakat yang bersangkutan dapat dipastikan menjadi sebuah masyarakat yang sejahtera.

Begitu menurut opini publik.

Anda setuju?
Saya tidak sepenuhnya setuju.

Ada beberapa hal yang melandasi pendapat saya.
Pertama, agama memang memiliki hubungan dengan moral. Akan tetapi, jika anda melihat kenyataan dan sejarah, [coba baca Gonick, Larry. (2007). Kartun Riwayat: Peradaban Modern III. Jakarta: KPG] dapat disadari bahwa ternyata beragama tidaklah memiliki hubungan dengan bermoral. Atau dengan kata lain, dengan menjadi pemeluk suatu aliran agama tidak lantas menjadikan seseorang sebagai orang yang bermoral.
Lalu sebenarnya apa yang dapat membuat agama memiliki hubungan dengan moral? Menurut saya, hal-hal yang terkandung dalam ajaran setiap agama pada dasarnya merupakan arahan maupun tuntunan untuk menjadi bermoral. Misalnya saja, hormati orang tuamu, cintai sesamamu, dan hargailah dirimu sendiri.
Hanya saja sering kali penerapannya tidak sesuai. Ketidaksesuaian tersebut kemudian tidak dapat dipisahkan dari sifat orang yang bersangkutan, kebutuhan manusia yang selalu berkembang [dan pada dasarnya tidak pernah puas!], dan adanya interpretasi yang salah mengenai apa yang tertulis dalam ajaran agama.
Kedua, berkaitan dengan pertanyaan: Apakah moral hanya didominasi oleh orang beragama? Seperti yang sudah disebutkan di atas, ajaran agama memuat arahan untuk menjadi bermoral. Namun itu bukan berarti seseorang baru dapat mengenal seperti apa itu bermoral ketika ia memeluk suatu agama. Menurut saya, ajaran yang ada di dalam setiap agama merupakan ajaran mengenai kehidupan: bagaimana sepantasnya kita berhubungan dengan Yang Mahakuasa, sesama manusia, hewan, tumbuhan, dan alam sekitar. Agama menjadi sarana untuk menyadarkan seseorang mengenai kehidupan. Memahami hal tersebut membuat saya berani berpendapat bahwa moral bukanlah milik kaum beragama saja; kaum agnostic bahkan ateis pun saya yakin juga memiliki moral [keyakinan ini makin diperkuat setelah saya menyelesaikan skripsi saya yang berjudul Gambaran Konsep Moral dan Pengaplikasiannya pada Dewasa Muda yang Memilh untuk Tidak Beragama.]
Terakhir, saya sependapat bahwa masyarakat akan menjadi sejahtera apabila orang-orang di dalamnya memiliki moral. Namun demikian, kunci untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera bukanlah agama. Agama hanya menjadi salah satu alternatif jalan yang dapat mencapainya. Kuncinya, menurut saya, adalah adanya kesadaran dari individu-individu di dalamnya untuk: menghargai hak-hak orang lain, menjalankan kewajibannya masing-masing, dan memiliki keterbukaan untuk berdiskusi. Kesadaran itulah yang menjadi cerminan dari moral seseorang.

About these ads

1 Comment »

  1. Mee said,

    makasih, berguna bgt nih artikelnya buat tugas kuliah, udah berkelana 2 minggu di google baru nemu sekarang.

    Agama dan moral…hmm….. :think harder:


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: